Pemerintah Jepang Mempertimbangkan Memangkas Penilaian Ekonominya


Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan untuk menurunkan penilaian ekonomi mereka pada pekan depan, seiring perselisihan perdagangan AS-Cina yang semakin meningkat, sehingga berdampak pada laju ekspor dan output pabrik.

Penurunan peringkat dalam laporan bulanan dari pemerintah, dinilai dapat memicu spekulasi bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe dapat menunda sekali lagi rencan kenaikan pajak penjualan yang ditetapkan untuk bulan Oktober mendatang. Saat ini beredar spekulasi bahwa Abe dapat menunda pajak hingga 10% sekaligus menyerukan pemilihan yang lebih cepat untuk majelis rendah parlemen bersamaan dengan jajak pendapat dari majelis tinggi musim panas ini, di tengah berkecamuknya kebijakan Abenomics.

Sebelumnya Abe telah menunda kenaikan pajak penjualan hingga dua kali, menyusul dirinya yang lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dibandingkan reformasi fiskal. Kenaikan pajak sebelumnya menjadi 8% dari 5% di April 2014, telah memberikan pukulan bagi para konsumen serta sekaligus memicu terjadinya penurunan tajam di negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut.

Dalam kesempatan berbicara kepada Reuters, pejabat sekjen Partai Demokrat Liberal, Koichi Hagiuda mengatakan bahwa jika kenaikan pajak yang telah dijadwalkan kembali mengalami penundaan, maka perdana menteri tidak perlu meminta adanya pemilihan majelis rendah untuk mendapatkan pemahaman dari para pemilih. Namun saat ditanya apakah keputusan untuk menunda perlu dibuat sebelum pemilihan majelis tinggi pada musim panas ini,

Hagiuda menyatakan bahwa hal tersebut memang perlu dibuat sebelum diadakannya pemilihan majelis tinggi, sembari mencermati berbagai indikator ekonomi Jepang, terutama survei bisnis Tankan dari BoJ yang akan jatuh tempo pada 1 Juli mendatang.

Pemerintah Jepang telah mengumumkan langkah-langkah untuk meredam dampak kebijakan tersebut terhadap konsumen dan Abe telah berulang kali berjanji untuk melanjutkan dengan adanya peningkatan, kecuali jika guncangan yang menerpa ekonomi dinilai sangat besar. Dalam laporannya di bulan April, pemerintah menyebutkan bahwa ekonomi Jepang telah pulih secara bertahap, meskipun masih ada tanda-tanda pelemahan ekspor.

Trade war yang masih berlanjut antara AS-Cina telah mendorong pemerintah Jepang untuk meninjau kembali pandangan sebelumnya bahwa ekspor dan output pabrik akan kembali melemah di akhir tahun ini, dan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengurangi penilaian pengeluaran modal dan output pabriik dalam laporan bulan Mei.(WD)

1 view0 comments